Functional Test

Functional Testing

Functional test bermanfaat untuk mengecek ulang (mengetest) fitur-fitur yang ada pada suatu aplikasi sebelum aplikasi ini benar-benar di pakai oleh klien. Hal ini dilakukan untuk memastikan kualitas yang ada pada suatu aplikasi tetap berjalan sesuai dengan standar fungsinya. Functional test ini biasanya dilakukan pada masa development (pengembangan suatu aplikasi). Hasil test kemudian di simpan di dalam suatu dokumen Test Plan.

Test Plan

Penjelasan Kolom:

  1. Daftar Fitur. Berisi Judul task, tiket dsbg.
  2. Description. Daftar fitur perlu diuraikan lagi serinci mungkin agar lebih jelas. Lebih bagus lagi kalau disertakan dengan screen shot yang alamat URL nya di simpan pada kolom catatan.
  3. Nama orang yang mengetest aplikasi.
  4. Tgl test. Tanggal dilakukannya test.
  5. Isi sesuai dengan status test Anda, apakah Sukses (Sesuai dengan scenario dan tidak terjadi bug), Gagal (jika masih terjadi bug), ataupun Not tested (bila rincian fitur tersebut belum di test sama sekali.)
  6. Isi kolom ini dengan catatan yang mungkin untuk memudahkan pembaca atau QA lainnya (jika Anda bekerja secara tim).

Tugas dari QA disini adalah memastikan bahwa setiap halaman yang berhubungan dengan data yang diinput oleh pengguna sesuai dengan scenario yang ada.

Jenis Case ada 2:

  1. Happy Case. Jika penjelasannya sesuai dengan scenario (misal. Pengguna melihat halaman Dashboard setelah memasukkan username & password yang benar).
  2. Unhappy Case. Jika penjelasannya tidak sesuai dengan scenario (misal. Pengguna melihat tampilan error jika memasukan username & password yang salah).

Usability Testing

Fungsionalitas dari suatu aplikasi haruslah mudah untuk diakses oleh klien. Termasuk jika pengguna memiliki keterbatasan, baik secara teknis maupun non-teknis. Keterbatasan teknis yang dimaksud contohnya:

  1. Pengguna menggunakan ukuran layar dibawah ukuran pada umumnya (misalnya 800 x 600).
  2. Pengguna menggunakan cross browser. Disini, aplikasi harus bisa dijalankan dengan baik dengan berbagai browser, misalnya Firefox, Chrome, IE, Safari, Opera dan sebagainya.
  3. Pengguna menggunakan browser dengan versi lama.
  4. Pengguna menggunakan browser dengan menonaktifkan javascriptnya.

Dan yang dimaksud dengan keterbatasan non-teknis adalah:

  1. Pengguna menderita buta warna.
  2. Pengguna memiliki daya penglihatan rendah.

Jika hal ini terjadi, sebaiknya Anda menggunakan

  1. Degradable Javascript. Matikan Javascript pada browser, kemudian cek fungsionalitasnya. Seharusnya semua tetap berfungsi, kalaupun tidak, maka harus ada keterangan seperti misalnya tulisan “You must enable Javascript to use this application.”

Misal pada Firefox, untuk mengaktifkan Javascript adalah dengan mengetik about:config pada address bar, kemudian cari javascript.enable kemudian klik 2x pada tulisan itu.

Javascript Required

 

  1. Color Combination.

Cek lah kombinasi warna nya apakah sudah sesuai dengan persyaratan WCAG dengan menggunakan website www.checkmycolours.com Disini Anda hanya memasukkan URL dari aplikasi Anda, kemudian Anda bisa melihat hasilnya. WCAG (Web Content Accessibility Guidelines) merupakan bagian dari panduan seri aksesibilitas web yang dikembangkan oleh Web Accessibility Initiative (WAI) dari W3C. Standar Organisasi Internasional Utama untuk World Wide Web.

Check My Colours

12 Desember 2014 (11:00)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s